Nilai-Nilai Moral dalam Teks Slokantara

Dalam kajian kebudayaan, nilai merupakan inti dari setiap kebudayaan. Dalam konteks ini, khususnya nilai-nilai moral yang merupakan sarana pengatur dari kehidupan bersama, sangat menentukan di dalam setiap kebudayaan. Lebih-lebih lagi di era globalisasi yang berada dalam dunia yang terbuka, ikatan nilai-nilai moral mulai melemah. Masyarakat mengalami multikrisis yang dimensional, dan krisis yang dirasakan sangat parah adalah krisis nilai-nilai moral. Situasi ini mengisyaratkan bahwa diskursus tentang moralitas masih tetap relevan bahkan urgen dalam masyarakat kontemporer. Kitab suci sebagai salah satu sumber moralitas memiliki peranan strategis untuk mendonasikan ide-ide moral sebagai referensi teoritik untuk beranjak dari krisis saat ini, termasuk Teks Slokantara.

 

Pendahuluan

Pada sebuah museum di Konstantinopel terdapat koleksi benda kuno berupa lempengan tanah liat berasal dari tahun 3800 sebelum masehi, yang bertuliskan : We haven fallen upon evil times and the world has waxed very old and wicked politics are very corrupt. Children are no longer respectfull to their parent. Makna yang terkandung dalam tulisan tersebut adalah kita mengalami zaman edan dan dunia telah diliputi kemiskinan dan kejahatan. Politik sangat korupsi. Anak-anak sama sekali tidak hormat kepada orang tuanya (Zuriah, 2008:1).

Situasi yang tergambar dalam lempengan tanah liat yang tersimpan dalam museum di Konstantinopel itu ternyata sejalan dengan situasi yang terjadi paling tidak hingga abad ini, bahkan mengindikasikan adanya peningkatan yang sangat signifikan. Kondisi ini dilukiskan dengan baik oleh Capra yang mengatakan bahwa kita telah menemukan diri kita telah berada dalam suatu krisis global yang serius, krisis yang kompleks dan multidimensional yang menyentuh semua aspek kehidupan. Krisis ini merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, spiritual, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Krisis ini telah menjadi ancaman terhadap kelangsungan keberadaan ras manusia di planet bumi (Capra, 2000:3). Zuchdi (2009:34) menyebut krisis ini sebagai cacat budaya.

Dalam kajian kebudayaan, nilai merupakan inti dari setiap kebudayaan. Dalam konteks ini, khususnya nilai-nilai moral yang merupakan sarana pengatur dari kehidupan bersama, sangat menentukan di dalam setiap kebudayaan. Lebih-lebih lagi di era globalisasi yang berada dalam dunia yang terbuka, ikatan nilai-nilai moral mulai melemah. Masyarakat mengalami multikrisis yang dimensional, dan krisis yang dirasakan sangat parah adalah krisis nilai-nilai moral. Pendidikan di seluruh dunia kini sedang mengkaji kembali perlunya pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter dibangkitkan kembali. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh bangsa dan masyarakat Indonesia, tetapi juga negara-negara maju. Bahkan, dinegara-negara Industri di mana ikatan moral menjadi semakin longgar, masyarakatnya mulai merasakan perlunya revival dari pendidikan moral yang pada akhir-akhir ini mulai ditelantarkan. Di Amerika serikat, serta di masyarakat Indonesia dewasa ini muncul tuntutan untuk menyelenggarakan pendidikan budi pekerti atau pendidikan moral, yang didasarkan atas tiga hal, yaitu : (1) Melemahnya ikatan keluarga; (2) Kecenderungan negatif di dalam kehidupan remaja dewasa ini; (3) Suatu kebangkitan kembali dari perlunya nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti dewasa ini. Telah timbul suatu kecenderungan masyarakat yang mulai menyadari bahwa dalam masyarakat terdapat suatu kearifan mengenai adanya suatu moralitas dasar yang sangat esensial dalam kelangsungan hidup bermasyarakat (Zuriah, 2008:10-11).

Kitab Suci memiliki peranan fundamental dalam kehidupan manusia. Dari sanalah perihal tatanan tingkah laku, moralitas, pertanyaan-pertanyaan metafisik manusia tentang eksistensi alam, manusia dan Tuhan dijabarkan. Karenanya, keberadaan kesusastraan (termasuk kitab suci) dianggap sangat penting dibandingkan dengan peninggalan yang lain (Soebadio, 1991:1).
Weda merupakan kebenaran abadi yang diwahyukan Tuhan. Buku tertua dalam kepustakaan umat manusia. Kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam semua agama diperoleh dari Weda dan akhirnya dapat ditelusuri menurut Weda. Weda merupakan sumber utama dari agama. Sumber tertinggi dari semua sastra agama, berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, Weda diwahyukan pada permulaan adanya pengertian waktu (Sivananda, 2003:13-14).

Weda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia ini dan di akhirat nanti, memberi tuntunan tindakan umat manusia sejak lahir sampai pada nafasnya yang terakhir. Ajaran Weda tidak terbatas hanya sebagai tuntunan hidup individual, tetapi juga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bagaimana hendaknya seorang atau masyarakat bersikap dan bertindak, tugas-tugas indivudu dan tugas-tugas umum sebagai anggota masyarakat, demikian pula bagaimana seorang rohaniawan bertingkah laku, tugas dan kewajiban kepada negara atau pemerintah dalam mengemban tugasnya. Segala tuntunan hidup ditujukan kepada kita oleh ajaran Weda yang terhimpun dalam kitab-kitab Samhita, Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, maupun yang dijelaskan kembali dalam kitab-kitab susastra Weda atau susastra Hindu lainnya (Titib, 2003:19-20).

Maharsi Manu, peletak dasar hukum Hindu dalam kitab Manawadharmasastra II.6., menjelaskan bahwa Weda adalah sumber dari segala dharma atau hukum Hindu, yakni :

Vedo’khilo dharma mulam
smrti sile ca tad vidam,
acarasca iva sadhunam
atmanas tustir eva ca

Terjemahan :

Weda adalah sumber dari segala dharma, yakni agama, kemudian barulah smrti, di samping sila (kebiasaan atau tingkah laku yang baik dari orang yang menghayati dan mengajarkan Weda), acara yakni tradisi-tradisi yang baik dari orang-orang suci (sadhu) atau masyarakat yang diyakini baik serta akhirnya atmanastusti, yakni rasa puas diri yang dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ngurah, 1999:39).

Mengingat betapa pentingnya Weda dalam kehidupan manusia, khususnya umat Hindu, maka dipandang penting untuk menyebarkan kebenaran ini agar dapat dimengerti sebagai pengetahuan yang paling elementer, seperti yang tertuang dalam Yajurveda XXVI.2, sebagai berikut :

Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah,
brahma rajanyabhyam sudraya caryaya
ca svaya caranaya ca

Terjemahan :

Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendikiawan-rohaniawan, raja/pemerintah/masyarakat. Para pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku dan orang asing sekalipun (Titib, 2003:3).

Sri Krisna, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, dalam Bhagawadgita XVI.24, juga menyerukan agar manusia senantiasa menjadikan kitab Suci Weda sebagai pedoman bertingkah laku, demikian sabda Beliau :

Tasmac chastram pramanam te
karyakarya-vyavasthitau
Jnatva sastra-vidhanoktam
karma kartum iharhasi

Terjemahan :

Karena itu, biarlah kitab-kitab suci menjadi petunjuk untuk menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan; setelah mengetahui apa yang dikatakan dalam aturan kitab suci engkau hendaknya mengerjakannya di sini (Pudja, 1999:384).

Weda merupakan sumber pengetahuan tanpa batas. Bila orang Kristen dapat menyebutkan buku otoritatif yang melandasi agamanya dengan sebutan ‘Injil’, orang Islam menyebutnya ‘Qur’an’, bagi masyarakat Buddha dengan kitabnya ‘Dhammapada’, dan orang Parsi menyebutnya ‘Zend Avesta’, tapi kita orang Hindu tidak ada jawaban serupa, karena kitab sucinya lebih dari satu; dan tidak bisa dikatakan bahwa pengarangnya adalah manusia (Saraswati, 2009:1-2).

Di Indonesia, banyak terdapat pustaka-pustaka lontar kuno yang substansinya adalah penjabaran ajaran Weda. Sayangnya, sebagian besar umat Hindu belum dapat mempelajari secara mendalam isi lontar tersebut, mengingat lontar-lontar tersebut menggunakan bahasa Jawa Kuno dan memerlukan upaya terjemahan lebih lanjut. Menyadari betapa pentingnya sosialisasi terhadap isi lontar-lontar tersebut kepada khalayak luas, Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat telah melakukan upaya terjemahan lontar-lontar tersebut.

Teks Slokantara merupakan salah satu pustaka lontar yang telah diterjemahkan, namun belum dikenal secara luas. Teks ini diyakini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, diperkirakan bahwa disusunnya Teks Slokantara ini pada zaman Majapahit akhir, yakni setelah Pustaka Suci Sarasamuccaya dan Nitisastra, mengingat isi dari Teks Slokantara memiliki banyak persamaan slokanya dengan kedua pustaka suci tersebut, Pada tahun 1961, Teks Slokantara diputuskan dalam Piagam Campuan sebagai salah satu Pustaka Suci Smerti (Sudharta, 2003:1-2).

Sebagai bagian dari Weda, Teks Slokantara memiliki ekualitas subtansial dengan nilai-nilai Weda pada umumnya, termasuk nilai-nilai moral. Tulisan ini dimaksudkan mengungkap dan memperkenalkan nilai-nilai yang terkandung, utamanya nilai-nilai moral sebagai referensi tindakan umat. Mengingat ruang yang terbatas serta menghindari pembahasan yang terlalu luas, maka penyajiannya akan disederhanakan sedemikian rupa tetapi tetap diupayakan untuk tidak mereduksi makna yang hendak disampaikan.

Untuk menganalisis permasalahan yang dikaji, utamanya dalam interpretasi sloka-sloka dalam Teks Slokantara penulis akan menggunakan teori Hermeneutik dari Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher sebagai kerangka teoritik. Kata Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “Hermeneuo” yang berarti menafsirkan. Pengertian tertua, dan mungkin yang paling banyak dipahami oleh banyak orang, adalah hermeneutika sebagai prinsip-prinsip penafsiran kitab suci (principles of biblical interpretation). Dalam terminologi, hermeneutika adalah aliran filsafat yang bisa didefinisikan sebagai teori interpretasi dan penafsiran sebuah naskah melalui percobaan. Schleiermacher (1768-1834) yang dianggap sebagai bapak hermeneutika modern dan pendiri Protestan Liberal.

Salah satu idenya dalam hermeneutika adalah universal hermeneutic. Dalam gagasannya, teks agama sepatutnya diperlakukan sebagaimana teks-teks lain yang dikarang manusia. Pemikiran Schleiermacher dikembangkan lebih lanjut oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911), seorang filosof yang juga pakar ilmu-ilmu sosial. Setelahnya, kajian hermeneutika berbelok dari perkara metode menjadi ontologi di tangan Martin Heidegger (1889-1976) yang kemudian diteruskan oleh Hans-Georg Gadamer (1900-1998) dan Jurgen Habermas (1929) (Prilakusuma, 2012:5).

Definisi Nilai Moral
Nilai dalam bahasa Inggris value, dari bahasa Latin valere, artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, kuat). Beberapa pengertian nilai antara lain :

1. Harkat. Kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, atau dapat menjadi objek kepentingan.
2. Keistimewaan: Apa yang dihargai, dinilai tinggi, atau dihargai sebagai suatu kebaikan. Lawan dari suatu nilai positif adalah “tidak bernilai” atau “nilai negatif”. Baik akan menjadi suatu nilai dan lawannya (jelek, buruk) akan menjadi suatu “nilai negatif” atau tidak bernilai”.
3. Ilmu ekonomi yang bergelut dengan kegunaan dan nilai tukar benda-benda material, pertama kali menggunakan secara umum kata “nilai”.
Nilai juga dapat dimaknai sebagai : (1) Harga (dalam arti tafsiran harga); (2) Harga Uang (dibandingkan dengan harga uang yang lain); (3) Angka kepandian, biji, ponten; (4) Banyak sedikitnya isi, kadar, mutu; (5) Sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Kata nilai juga terdapat pada beberapa istilah yang kemudian memberi arti yang berbeda pula, misalnya : (1) Nilai etik yaitu nilai untuk manusia sebagai pribadi yang utuh, misal kejujuran; nilai yang berhubungan dengan akhlak; nilai yang berkaitan dengan benar dan salah yang dianut oleh golongan atau masyarakat; (2) Nilai keagamaan yaitu konsep mengenai penghargaan tinggi yang diberikan oleh warga masyarakat pada beberapa masalah pokok dalam kehidupan keagamaan yang bersifat suci sehinggamenjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat yang bersangkutan; (3) Nilai budaya yaitu konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia; (4) Nilai moral yaitu nilai etik (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:963).
Moral, dalam bahasa Inggris Moral, dan bahasa Latin Moralis – mos, moris (adat, istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan) mores (adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak, cara hidup). Beberapa pengertian :

1. Menyangkut kegiatan-kegiatan manusia yang dipandang sebagai baik/buruk, benar/salah, tepat/tidak tepat.
2. Sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterima menyangkut apa yang dianggap benar, bajik, adil dan pantas.
3. Memiliki a) kemampuan untuk diarahkan oleh (dipengaruhi oleh) keinsafan akan benar dan salah, dan b) kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang lain sesuai dengan kaidah-kaidah perilaku yang dinilai benar atau salah.
4. Menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam hubungan dengan orang lain.

Moral dari segi etimologis perkataan moral berasal dari bahasa Latin yaitu “Mores” yang berasal dari suku kata “Mos”. Mores berarti adat-istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak, yang kemudian artinya berkembang menjadi sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik, susila. Moralitas berarti yang mengenai kesusilaan (kesopanan, sopan-santun, keadaban). Orang yang susila adalah orang yang baik budi bahasanya ( Darmadi, 2007:50).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:929) moral didefinisikan sebagai : (1) Ajaran tentang baik burukyang diterima umum mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti, susila; (2) Kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan; (3) Ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita.
Terkait dengan moralitas Wiranata menyatakan bahwa nilai-nilai moral itu secara umum mempunyai beberapa ciri, diantaranya adalah :

1. Moral selalu terkait dengan tanggung jawab manusia. Dalam hal ini apapun yang dilakukan oleh manusia selalu harus dapat dipertanggung jawabkan. Nilai moral membawa konsekwensi benar-salah, baik-buruk, karena manusia itu sendiri adalah sumber dari nilai moralnya.

2. Moral selalu berkaitan dengan hati nurani manusia. Hati nuranilah yang menghimbau manusia untuk berbuat sesuatu. Kalau manusia ingin perbuatannya dinilai baik atau buruk,benar atau salah, maka manusia harus mengendalikan hati nuraninya. Jika hati nuraninya baik dan bersih, maka perbuatannya akan menjadi layak dan patut, sedangkan jika hati nuraninya penuh kedengkian, maka perbuatannya punakan sama buruknya.

3. Moral bersifat mewajibkan. Nilai moral tak dapat ditawar oleh siapapun juga. Moral yang bersumber dari hati nurani akan memberikan perintah kepada manusia untuk mewajibkan pengembalian apa yang dipinjamnya. Sesuatu barang yang bukan miliknya tidaklah pantas untuk diambil dan dimiliki secara tidak sah. Moralnya akan mewajibkan orang itu untuk tidak memiliki barang tersebut.

4. Moral berbentuk formal. Moral bersifat serentak dan berkaitan dengan sejumlah nilai lain. Moral tak dapat berdiri sendiri, sebab ia tidak akan bermakna apabila tidak disertai dengan nilai lainnya. Moral akan menjadi sesuatu yang berarti jika telah diwujudkan dan terkait dengan fenomena lainnya. Misalnya kesetiaan akan bermakna jika dikaitkan dengan harmonisasi hubungan cinta kasih suami istri (Suhardana, 2006)

Dalam bukunya Filsafat Moral, Poespoprodjo (1998:118) menjelaskan bahwa moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Hal ini senada dengan pendapat Poedjawiyatma (2003:27) yang mengatakan bahwa moral merupakan pengetahuan tentang baik dan buruk.

Sedangkan nilai moral, dari segi objektif soal moral mempunyai nilai yang dalam arti tertentu, tidak bersyarat dan mutlak, meskipun ia bukan tidak terbatas. Nilai ini bersama tujuan tertinggi manusia dan hukum ilahi merupakan dasar kekuatan hukum moral kodrat yang mengikat dan tak bersyarat. (Tujuan tertinggi manusia adalah kebahagiaan. Ini akan tercapai di dunia lain karena manusia menjadi milik Tuhan). Keburukan (kejahatan) moral ditandai ketidakpatutan mutlak yang tidak dapat diimbangi nilai lain manapun betapa pun tingginya. Nilai mutlak dari tatanan moral memerlukan kepatuhan kehendak manusia di samping kecondongan-kecondongan ingat diri. Dari sini tidak dapat disimpulkan bahwa arti kecondongan-kecondongan yang ditata secara moral hilang sama sekali (Bagus, 2002:672, 674, 713).

Sekilas Tentang Teks Slokantara
Kata Slokantara berasal dari kata sloka dan antara, yang dimaknai “untaian sloka-sloka”, sama dengan kata “nusantara” yang berarti “untaian pulau-pulau”. Untaian itu tidak memikirkan sistematika urutan besar kecilnya pulau-pulau. Karena itu dapat dimengerti pikiran penyusun Slokantara ini mengapa isi naskah itu disusun secara tidak sistematis. Sehingga untuk menemukan adanya sistematika teks, layaknya sebuah teks terstruktur yang memiliki Bagian manggala atau proplog, bagian isi, dan bagian akhir, tidak akan dijumpai.

Di samping anggapan bahwa Slokantara ini merupakan bahan pelajaran yang diturunkan dari beberapa pustaka suci, ia juga bukan merupakan kitab suci sendiri karena Sokantara tidak memulai susunannya dengan bait manggalacarana, seperti yang terdapat dalam pustaka suci lainnya, sebut saja Sarasamuccaya yang memiliki bait manggalacarana yang ditujukan kepada Bhagawan Wyasa dan Nitisastra yang memiliki bait manggalacarana yang diperuntukkan bagi Bhatara Hari dan Bhatara Surya.

Kitab suci agama Hindu berdasarkan tafsir yang dimasukkan ke dalamnya, terdiri atas dua kelompok besar, yaitu kelompok Kitab Suci Weda dan Kelompok Nibanda. Kitab Suci Weda pun dibagi lagi menjadi Kitab Suci Weda Sruti dan Kitab Suci Smrti. Kitab Suci Weda Sruti adalah kitab suci yang ditulis langsung begitu mendengar wahyu (atas apa yang didengar), sedangkan Kitab Suci Weda Smrti adalah wahyu yang ditambah dengan ulasan dari maharsi (berdasarkan ingatan).Permasalahan yang dibahas dalam Slokantara memiliki banyak sekali persamaan dengan sloka yang terdapat di dalam Pustaka Suci Sarasamuccaya dan Nitisastra. Tema-tema yang menjadi pembahasannya pun tidak jauh berbeda, yakni memperbincangkan mengenai moralitas. Karena Parisada merasa bahwa isi Slokantara itu sejajar dengan Pustaka Suci Sarasamuccaya, maka dalam Piagam Campuhan pada tahun 1961 diputuskan bahwa Slokantara masuk ke dalam Pustaka Suci Smrti.

Seperti halnya teks-teks klasik lainnya, teks Slokantara tidak menyebutkan penulisnya bahkan tahun atau nama raja sehingga kapan teks ini ditulis tidak dapat diketahui dengan pasti. Diyakini bahwa Slokantara telah disusun beratus-ratus tahun yang lalu. Menurut Sudharta penyusunan Slokantara dipastikan tidak pada abad pertama sebelum masehi. Belum ada penyelidikan mengenai hal ini. Namun karena banyak sekali persamaan-persamaan slokanya dengan apa yang terdapat di dalam Pustaka Suci Sarasamuccaya dan Nitisastra, maka diperkirakan bahwa disusunnya Slokantara ini setelah kedua pustaka tersebut, yaitu pada zaman Majapahit akhir (Sudharta, 2003:1-3).

Nilai-nilai Moral dalam Teks Slokantara

1. Satyam
Slokantara (Sloka 2)
Kalinganya, hana pweka wwang magawe sumur satus, alah ika dening magawe talaga tunggal, lewih ikang wwang magawe talaga, hana pweka wwang magawe talaga satus, alah ika phalanya dening wwang gumawayaken yajna pisan, atyanta lewih ing gumawayaken yajna, kunang ikang wwang mayajna ping satus, alah ika phalanya de nikang wwang manak-anak tunggal, yan anak wisesa, kalingannya ikang manak-anaka ta lewih phalanya, muwah ikang wwang maweka satus, alah dening kasatyan, sangksepanya, lewih phala nikang wwang satya, ya ta matangyan sang sadhu, haywa tan-satya ring brata, mwang ring wacana, mangkana ulaha nira

Terjemahan :

Orang yang membuat (menggali) sumur itu dikalahkan kegunaannya oleh orang yang membuat telaga untuk umum. Lebih berjasa orang yang membuat telaga. Sedangkan yang membuat telaga seratus, dikalahkan oleh kebajikan orang yang melakukan yajna (korban suci). Jauh lebih berjasa yang mengadakan yajna. Yang melakukan seratus yajna dikalahkan pahalanya oleh yang mempunyai putera, walaupun seorang, asal saja putera itu saleh dan pandai. Dikatakan bahwa pahala orang yang mempunyai seratus putera yang baik itu diatasi oleh yang melakukan kebenaran (satya). Pendeknya, hasil dari laksana yang benar (satya) itu mengatasi segalanya. Oleh karena itu orang suci harus tidak berdusta, dalam sumpah maupun kata-kata. Itulah yang harus dilaksanakan (Sudharta, 2003:14).
Slokantara (Sloka 3)

Kalinganya, tan hana dharma lewiha sangkeng kasatyan, matangnya haywa lupa ring kasatyan ikang wwang.

Terjemahan :

Dikatakan bahwa tidak ada kewajiban suci yang melebihi kebenaran, oleh karena itu jangan lupa bahwa manusia harus melakukan kebenaran (Sudharta, 2003:16).

Nilai susila pertama yang dijelaskan dalam Slokantara ialah Satyam. Kata Satyam atau satya berasal dari Bahasa Sanskerta yang artinya kejujuran atau kebenaran (Surada, 2007:292). Dijelaskan dalam sloka di atas bahwa aktualisasi atas nilai satyam (kebenaran atau kejujuran) itu melebihi kepemilikan telaga yang diperuntukkan untuk umum, lebih mulia dari melakukan yajna, bahkan melampaui kemuliaannya dari sebuah keluarga yang memiliki seratus putra utama (suputra). Dalam sloka di atas menjelaskan bahwa pelaksanaan kebenenaran atau kejujuran merupakan puncak dari semua upaya kebajikan. Satyam merupakan tujuan dari semua perilaku bijak, dan tak ada kebajikan yang sesungguhnya tanpanya.

Hal ini juga dijelaskan dalam Sarasamuccaya 129, bahkan dikatakan bahwa pelaksanaan satya ini akan mengantarkan manusia pada pembebasan diri dari belenggu dunia ini.
Nihan ta kottamaning kasatyan, nang yajna, nang dana, nang brata, kapwa wenang ika mengentasaken, sor tika dening kasatyan, ring kapwa angentasaken.

Terjemahan :

Keutamaan kebenaran adalah demikian, yajna (pengorbanan), dana (amal-sedekah), maupun brata janji diri (sumpah batin); semuanya itu dapat membebaskan; akan tetapi masih dikalahkan oleh satya (kebenaran) dalam hal sama-sama membebaskan diri dari kehidupan di dunia ini (Kajeng, 1999:106).

Dalam pandangan Weda, Satya merupakan nilai kesusilaan yang sangat fundamental. Begitu pentingnya, satya dikatakan sebagai penyangga bumi, seperti yang terdapat dalam Atharvaveda XIV.1.1 berikut ini :
Satyena-uttabhita bhumih
Suryena-uttabhita dyauh
rtena-adityas tisthanti
divi somo adhi sritah

Terjemahan :

Kebenaran/kejujuran menyangga bumi. Matahari menyangga langit. Hukum-hukum alam menyangga matahari. Tuhan Yang Maha Kuasa meresapi seluruh lapisan udara yang meliputi bumi (Atmosfir) (Titib, 2003:309).

Jika dalam Atharvaveda, satya dinyatakan sebagai penyangga bumi, maka dalam Sarasamuccaya 130 dikatakan bahwa satya merupakan dharma yang utama, adapun sebagai berikut :
Yan ring janma manusa, brahmana sira lwih, kunang yan ring teja, sang hyang aditya sira lwih, yan ring awayawa, nang panipadadi, hulu ikang wisesa, yapwan ring dharma, nghing kasatyan wisesa.

Terjemahan :

Maka diantara yang dilahirkan sebagai manusia, brahmanalah yang utama; diantara yang bersinar, matahari itulah yang utama; mengenai anggota-anggota tubuh, seperti tangan, kaki dan lain-lain, kepalalah yang utama, jika dharma, maka satya (kebenaran) yang mengatasi keseluruhan (Kajeng, 1999:106-107).

Satyam merupakan pondasi dalam kesusilaan Hindu. Seperti yang dijelaskan dalam Sarasamuccaya 130, bahwa satyam merupakan dharma yang utama. Kiranya dapat dipahami bahwa peradaban Hindu (Weda) telah secara tegas memberikan pengetahuan dan norma kesusilaan, selebihnya tak ada toleransi. Satyam merupakan aspek fundamental yang mesti terpikirkan pada setiap tindakan manusia. Hal tersebut dapat dimengerti bersama bahwa, bagaimana mungkin tindakan manusia akan berujung baik apabila tidak didasari atas kebenaran/kejujuran (satyam).

Orang yang sungguh-sungguh menghayati nilai satyam senantiasa teguh memegang kebenaran walau harus menerjang rintangan yang berat sekalipun. Seperti yang dikatakan oleh Swami Vivekananda, “Apakah ada kemauan keras dihatimu dan kebulatan tekad yang dapat merombak gunung halangan, jika seluruh dunia bangkit dengan pedang terhunus untuk melawanmu? Masih berani jugakah engkau melakukan apa yang benar? Jika anak istrimu sendiri menentang dan meninggalkan kamu, serta jika seluruh hak milikmu jadi sirna karenanya dan jika namamu tidak bersemarak lagi, masih maukah engkau tetap berpegang pada kebenaran? Jika engkau bertekad demikian, kaulah putra-puteri yang diperlukan oleh nusa dan bangsa. Kejarlah kebenaran walau kemana kau dibawanya. Lanjutkan cita-citamu sampai ke akhir yang sewajarnya. Janganlah menjadi manusia pengecut dan palsu akan cita-cita” (Sudharta, 2003:31).

Satyam adalah tidak berkata dusta (bohong). Satyam juga diartikan sebagai kebenaran. Dalam etika Hindu, Satyam merupakan dasar dari spiritualitas. Kejujuran dan kebenaran merupakan mentalitas yang mesti diupayakan secara terus menerus dan sedini mungkin. Aktualisasi satyam secara konsisten akan mengantar manusia pada keagungan diri dan penghargaan tak ternilai. Hal tersebut yang mengantarkan kemasyuran Maharaja Yudistira dan Hariscandra. Kedua pribadi ini begitu dikagumi dunia, karena kejujuran dan kebenarannya yang tanpa tanding.

Sivananda menyatakan bahwa Sat (kebenaran) adalah Brahman, kebajikan tertinggi dan sumber kemuliaan dari kehidupan susila. Dalam Taittiriya Upanisad sang guru berkata kepada muridnya, “satyam wada – berkatalah yang benar”. Dunia berakar pada kebenaran. Dharma dipakukan pada kebenaran. Semua agama didasarkan pada kebenaran. Kejujuran, keadilan, kelurusan hati dan ketulusan, hanya modifikasi atau pernyataan dari kebenaran (Sivananda, 2003:48).

2. Susila
Slokantara (Sloka 5)
Kalinganya, ikang mrga, kidang, manjangan, tan pinakasukha ning twasnya ika yan wehana mas mwang bhusana, kunang ika yan pinakasukha ning manahnya, yan haneng alas akweh dukutnya hayu, mwang alang-alang, ramban-rambanan, yeka jenek ing manahnya, mangkana ikang wanara, yan wehana sahana ning ratna mulya, tan pinakasukhanya ika, kunang yan umulat irikang wwah-wwahan menduh pada matasak, yeka magawe sukhanya, mangkana tekang wok, tan sukha ika dening sarwa-sugandha, kunang ikang magawe sukha ri twasnya, pangemeh rikang pacaryan durgandha, yeka manukhani ring cittanya, mangkana ikang wwang dadiha ika ring tan kinahyunan de nika, taha tan mangkana, asing winisesaken ing twasnya, yeka singhit ing hatinya, hetu ning janma wwang, hana sor, hana wwang menak, hana kawula, hana tuhan, hana mudha, hana guna, hana wirupa, hana surupa, hana manemu hala, hana manemu hayu, hana manusya, hana sattwa, hana taru, hana lata, hana trna, irika ta katinghalan ikang swarga lawan naraka, mapa rupanya, yan hana wwang atyanta wibhuh ring bhuminira, yeka swarga ngaranya, yeka dinalih Sang Hyang Indra, yan hana wadwanira kasihan, yeka saksat widyadhara, yan hana bujangga mwang Brahmana weda-paraga, tan kakurang ing tattwa sarwasastragama, yeka Bhagawan Wrhaspati ngaranira, muwah yan hana wwang wirupa, mudha kasyath, gringan, gong dukhanya, yeka kawah ngaranya, nguni-nguni ikang wwang kandehan lara tan samanya, tan ucapen ikang tiryak kabeh, tekeng trna, taru, lata, pipilika, ikang satumuwuh, yeka neraka, matangyan ikang ulah rahayu, gawayakna, narapwan tan kalebwing maharorawa, sang wruh irika yeka wruh ring dharma rahayu, yan tan hana buddhidharma, inajaraken mahaniraya ngaranya, nir ngaranya nor, aya ngaranya laku, tan lumakwaken dharma rahayu kalinganya, matangyan singgahana ikang hawan mareng kawah, lakwanana ikang marga mareng swarge, ling Sanghyang Dharma, ya tutur ngaranya, ling ning aji.

Terjemahan :

Mrga atau kijang dan menjangan itu tidak merasa berbahagia dalam hatinya walaupun mereka diberi emas dan perhiasan indah. Tetapi hati mereka akan gembira jika hutan disekitar mereka menghijau oleh rumput dan dedaunan muda.

Demikian juga halnya kera. Walaupun mereka itu dihadiahi dengan permata sebanyak-banyaknya, mereka tidak akan berbahagia tetapi mereka bahagia bila buah-buahan pada bergelantungan dan masak. Demikian juga babi, tidak berbahagia diberi makanan serba harum, tetapi jika mereka diberi makanan berbau busuk mereka sangat berbahagia.

Apakah sifat manusia itu mau saja menerima apa yang tidak disukainya? Kenyataannya tidaklah demikian segala apa yang mereka anggap bagus, itu pulalah yang dirindukan hatinya. Dan inilah suatu sebab mengapa mereka itu lahir kembali dalam tingkatan yang berbeda-beda, ada yang lahir di tingkat rendah atau tinggi, menjadi budak atau majikan, menjadi orang bodoh atau pandai, orang cacat atau orang sempurna kecantikannya, menderita sengsara atau berbahagia, lahir sebagai manusia atau binatang atau menjadi pohon-pohonan, tumbuh-tumbuhan merambat atau rumput. Kita dapat melihat perbedaan kelahiran mereka itu apakah dari sorga ataukah dari neraka. Apakah tanda-tandanya yang jelas? Ia yang lahir menjadi orang besar di daerahnya, pasti kelahiran sorga. Ia dapat disamakan dengan Dewa Indra, sedangkan rakyat yang disayangi dapat diandaikan bidadari-bidadari dari kahyangan. Para pendeta dan cendikiawan yang pandai dalam ajaran Kitab Suci Weda dan tidak tanggung-tanggung pengetahuannya dalam kitab-kitab suci lainnya, mereka itu dapat dianggap keturunan Bhagawan Wrhaspati yang agung itu.

Sebaliknya, mereka yang lahir sebagai manusia cacat, dungu, sengsara, merangkak-rangkak, dan menderita siksaan hidup, mereka itu kelahiran neraka yang termasuk golongan rendah sampai kepada rumput, kayu-kayuan, tumbuh-tumbuhan merambat, semut, dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Mereka itu semua datangnya dari neraka.

Oleh karena itu tiap orang harus berbuat yang baik, agar tidak sampai terjerumus ke dalam Neraka Maharorawa. Mereka yang mengerti ini, mengerti ajaran dharma. Dan mereka yang tidak mengerti sama sekali tentang dharma dinamai sangat “niraya”. “Nir” artinya tidak “aya” artinya melakukan, jadi “niraya” artinya tidak berbuat yang baik. Oleh karenanya, manusia harus menghindari jalan yang membawanya ke neraka dan memilih serta mengikuti jalan menuju sorga.
Demikianlah ajaran dharma yang dinamai “tutur” (nasihat yang patut).
Semuanya ini ada dalam kiab suci (Sudharta, 2003:21-24).

Sloka di atas menjelaskan bahwa sikap atau tindakanlah yang akan mengantarkan manusia pada kehidupan yang baik atau buruk dikemudian hari. Orang yang melakukan kebajikan atau susila (ulah rahayu) akan menuju pada kebaikan dalam hidupnya. Kebajikan akan mengantarkan manusia pada alam svarga. Kebajikannya pula, yang akan memberikan sifat-sifat yang baik, kehidupan yang utama, kondisi badan yang rupawan, dan banyak hal-hal baik yang akan diperolehnya ketika lahir di dunia. Sebaliknya, perilaku yang jahat atau asusila akan mengantarkan manusia pada kehidupan yang buruk. Perbuatan jahat akan membawa manusia pada naraka loka. Kemudian jika lahir di dunia, maka manusia jahat itu akan senantiasa tidak beruntung dalam kehidupannya, bernasib buruk, tidak rupawan, cacat, bodoh, dan banyak hal-hal buruk yang akan diterima dalam kehidupannya. Demikianlah, kesusilaan sangat penting untuk dilaksanakan oleh setiap manusia, dan Slokantara telah menjelaskan mengenai hal ini.
Ulah rahayu artinya berperilaku baik. Ulah rahayu memiliki pengertian yang sepadan dengan kata sila atau susila. Sila artinya 1) aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa, 2) kelakuan atau perbuatan yang menurut adab (sopan santun), 3) dasar; adab; akhlak, moral. Sedangkan Susila artinya baik budi bahasanya; beradab; sopan (KBBI, 2008:1305 &1363).

Agama Hindu Sangat menganjurkan bahwa dalam setiap perbuatan hendaklah dipastikan bahwa perbuatan itu baik. Bahkan dalam sarasamuccaya 7 dikatakan bahwa setiap kelahiran manusia tiada lain adalah waktu melaksanakan ulah rahayu, susila atau subhakarma.

Pabhuktyan karmaphala ika, kalinganya, ikang subhasubhakarma mangke ri pena ika an kabukti phalanya, ri pegatni kabhuktyanya, mangjanma ta ya muwah, tumuta wasananing karmaphala, wasana ngaraning sangakara, turahning ambematra, ya tinutning paribhasa, swargacyuta, narakasyuta, kunang ikang subhasubhakarma ri pena, tan paphala ika, matangnyan mangke juga pengponga subha asubhakarma.
Terjemahan :

Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini adalah kesempatan melakukan kerja baik ataupun kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati diakhirat; artinya, kerja baik ataupun kerja buruk sekarang ini, di akhirat sesungguhnya di kecap akan buah hasilnya itu; setelah selesai menikmatinya, menitislah pengecap itu lagi; maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatannya: wasana disebut sangskara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja, yang diikuti penghukuman yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah neraka; adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidaklah itu berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga (Kajeng, 1999:10-11).
Dalam kehidupan manusia, susila adalah upaya terus menerus. Susila hendaknya mengiringi setiap pikiran, kata-kata dan tingkah laku manusia. Bila kelahiran manusia tanpa diiringi dengan kesusilaan maka disebut sia-sia belaka, manusia yang tidak mengerti dengan tujuan hidupnya. Hal tersebut diungkapkan dalam Sarasamuccaya 160, sebagai berikut :

Cila ktikang pradhana ring dadi wwang, hana prawrttining dadi wwang duccila, aparan ta prayojananika ring hurip, ring wibhawa, ring kaprajnan, apan wyartha ika kabeh, yan tan hana silayukti.

Terjemahan :

Susila itu adalah yang paling utama (dasar mutlak) pada titisan sebagai manusia, jika ada perilaku (tindakan) titisan sebagai manusia itu tidak susila, apakah maksud orang itu dengan hidupnya, dengan kekuasaan, dengan kebijaksanaan, sebab sia-sia itu semuanya (hidup, kekuasaan dan kebijaksanaan) jika tidak ada pentrapan kesusilaan pada perbuatan (praktek susila) (Kajeng, 1999:128).

Sivananda (2003:64-65)n menyatakan bahwa susila merupakan jalan spiritual, pondasi yoga, pilar dari struktur bhakti dan gerbang menuju Tuhan. Tanpa kesempurnaan susila, tak mungkin ada kemajuan spiritual atau realisasi. Seorang sisya yoga atau calon, harus secara ketat menekankan pada masalah susila. Ia harus jujur dan murni dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Ia harus memiliki perilaku yang cemerlang. Ia tidak boleh merugikan makhluk hidup manapun dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Ia harus melaksanakan secara tegas pemikiran yang benar, perkataan dan perbuatan yang baik.
Terkait dengan hal tersebut, Sri Krsna dalam kitab Bhagawadgita bersabda kepada Arjuna, sebagai berikut :

Tasmac chastram pramanamte
karyakarya-vyavasthitau
jnatva sastra-vidhanoktam
karma kartum iharhasi

Terjemahan :

Karena itu, seharusnya seseorang itu mengerti apa itu kewajiban dan apa yang bukan kewajiban menurut peraturan kitab suci. Dengan mengetahui aturan dan peraturan tersebut, hendaknya ia bertindak dengan cara supaya berangsur-angsur dirinya maju ke tingkat yang lebih tinggi (Prabhupada, 2006:759-760).

Inti dari apa yang telah di Sabdakan Sri Krsna kepada Arjuna dalam sloka tersebut tiada lain adalah, hendaknya setiap manusia memahami tugas serta kewajibannya yang baik dan benar, dan didasarkan atas otoritas kitab suci sebagai dasar dalam bersikap. Hal tersebut karena setiap manusia memiliki daya dan waktu yang sangat terbatas untuk berfikir tentang prinsip dan tertib moral, oleh sebab itu kitab suci dan orang-orang suci memberikan penjelasan tentang prinsip-prinsip moral universal.

3. Dosajna
Slokantara (sloka 9)
Kalinganya, dosajna ngaranira sang pandita, apad-gata ngaranya teka ning laraning wong waneh dosa sira dening durjana, tathapinya ngkana, tan patinggal dharma mwang sastragama sira, tan surud sira ring ulah rahayu, makakarana, swajati nireng pandita, kadyangga nikang bhrnga, bhrnga ngaranya brahmara, chinnapaksa apituwi tugel helar ika, tathapinya tan patinggal kambang ing saroruha inisep ika, pisaningu mangisepa purisa, taha tan mangkana, mangkana sang pandita, pisaningu sira ngangen-angena hala ri sama-sama nira tumuwuh, tah tan mangkana ulah nira, yadyapi wehana larambek sira, mwang dalihen durjana dening wwang, tan pangangen-mangen ahala sira ring loka.

Terjemahan :

Dosajna artinya orang teguh iman. Apagata, yaitu orang yang disusahkan oleh orang lain, orang yang telah dibencanai oleh orang jahat. Walaupun demikian ia tidak akan mau meninggalkan dan melanggar ajaran-ajaran agama dan dharma. Ia tidak akan berhenti mengerjakan kebajikan karena ia telah dilahirkan dalam lingkungan orang bijaksana. Ia dapat diumpamakan sebagai seekor “bhrnga”, yaitu kumbang, “Chinnapaksa” artinya sayapnya dicabut putus, walaupun demikian ia tidak akan mau meninggalkan bunga seroja yang sedang diisapnya itu. Ia tidak akan mau mengisap kotoran. Ia tidak akan pernah berbuat itu. Demikian juga seorang bijaksana walaupun ia dibencanai atau dihina oleh orang lain, namun ia tidak akan mau membalas dendam dan berniat jahat terhadap manusia lain (Sudharta, 2003:32)

Dosajna dalam konteks ini dimaknai sebagai keteguhan dalam pelaksanaan prinsip-prinsip dharma, yaitu teguh dalam perbuatan-perbuatan benar atau sadacara. Pelajaran penting tentang keteguhan dapat disimak ketikan Sri Krsna sebagai penjelmaan Tuhan yang turun ke dunia, memberikan wejangan kepada Arjuna di Kurusksetra dalam perang Bharatayudha ketika sedang dilanda kebingungan dan kebimbangan karena harus melawan keluarga sendiri, bahkan gurunya. Salah satu wejangan itu Sri Krsna ketika itu adalah mengenai keteguhan diri, Beliau menyatakan :
Duhkhesv anudvigna-manah
sukhesu vigata-sprhah,
vita-raga-bhaya-krodhah
sthita-dhir munir ucyate

Terjemahan :

Orang yang tidak sedih di kala duka, tidak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu, rasa takut dan amarah, ia disebut orang bijak yang teguh (Pudja, 1999:67).

Sri Krsna bahkan menyatakan bahwa keteguhan hati merupakan kualifikasi yang harus dipenuhi bagi orang-orang yang mencita-citakan pembebasan dalam hidupnya. Berikut adalah penjelasan Beliau :
Yam hi na vyathayanty ete
purusam purusarsabha,
sama-duhka-sukham dhiram
so mrtatvaya kalpate

Terjemahan :

Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyah karena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan (Prabhupada, 2006:92).

Weda juga menegaskan bahwa keteguhan dalam pelaksanaan prinsip-prinsip dharma merupakan sumber dari kebahagiaan manusia. Sebagaimana yang terjelaskan dalam Sarasamuccaya 19 sebagai berikut :
Hana pwa wwang tan linggar apageh buddhinya, artutaken kadamelaning dharmasadhana, ya ikang wwang bhagyamanta ling sang pandita, tan kalarakena dening kadang mitranya, yadyan manacanaka panapana mangatitajiwita tuwi.

Terjemahan :

Adalah orang yang tidak bimbang, bahkan budinya tetap teguh untuk mengikuti jalan pelaksanaan dharma; orang itulah sangat bahagia, kata orang yang berilmu, tidak akan menyebabkan kaum kerabat dan handai tulannya bersedih hati, meski ia sampai berkelana meminta-minta sedekah untuk menyambung hidupnya (Kajeng, 1999:19).

Hal serupa juga tersirat dalam Yogasutra ajaran dari Maharsi Patanjali, yang menempatkan ajaran susila sebagai dasar dalam pencapaian samadhi, yakni Yama dan Nyama Brata. Dalam komentarnya, Sivananda (2003:65) mengatakan bahwa keteguhan dalam pelaksanaan kebenaran merupakan pintu gerbang manusia untuk menuju realisasi Tuhan.

4. Kerti
Slokantara (Sloka 7)

Kalinganya, krti ngaran ing sang pandita, haywa sira manglawani hala ning maweh lara ring sira, yadnyana sadhya mamatyanana kuneng, tan walesana halanya, kewalagumegoha lara nira prihawak, majaraken teka ning lara, mwang pralaya, pilih masa ning surud ing hurip ira, ya pinakasopana ning paratra, ambal ing mantuk ing siwaloka, anghing ikang silayukti juga pagehakna mwang tapabrata sang wiku, yeka ksaya yukti.
Upeksa ngaranya, hana pwekang dusta manghalahala ring sira, makanguni mamatyanana, tan-wandhyanemu ng upadrawa, de nira, ya ta pamales nira, yeka pratikara ngaranya, mabalik ikang lara-upadrawa, dewadanda irikang manghalahala, mapan pinakabala-kosa-wahana nira, prabhawa ning tapabrata juga, yekawas manemu papa magong ikang wwang dusta makarya dukha ri sira, mangkana krama sang pandita.

Terjemahan :

Kerti artinya orang bijaksana dan budiman, ia tidak boleh mendendam terhadap orang lain yang berhati curang terhadap dirinya. Walaupun mungkin mereka berniat untuk membunuhnya, namun ia tidak boleh mendendam. Ia hendaknya menyadari sumber kejahatan itu terletak di hati manusia itu sendiri, namun ia harus percaya juga bahwa ia akan sanggup membasmi kejahatan itu dengan menyadari akan kedatangan kejahatan itu. Tentang orang lain ia hanya boleh berkata bahwa mereka itu pada akhirnya akan mati juga. Hal ini merupakan tangga naik guna mencapai ketinggian Siwaloka (yaitu bersatu dengan Tuhan). Setiap orang itu harus tetap teguh dalam melaksanakan kebaikan dan kebenaran, di samping menjalankan tapa dan brata bagi para pertapa dan pendeta. Inilah cara-caranya untuk membasmi tindakan atau niat jahat yang ditujukan terhadap kita.

Upeksa artinya kalau ada seseorang hendak membencanai kita, mungkin malah hendak membunuh kita, ia itu pasti akan menderita papa dan kutukan. Inilah yang merupakan balasan baginya. Ini juga dinamai pratikara, yaitu kejahatan atau kesaktian itu akan berbalik kembali dari mana asalnya. Inilah hukuman yang dijatuhkan oleh Tuhan kepada mereka yang melakukan kejahatan. Sebaliknya balasan terhadap perbuatan tapa dan brata itu ialah mendapat kekuatan (lahir batin) yang seolah-olah merupakan kekayaan atau sarana baginya. Dan bagi mereka orang jahat yang membencanai, pasti akan mendapat ganjaran yan setimpal atas dosa yang telah diperbuatnya.
Demikianlah keadaan orang yang bijaksana dan budiman (Sudharta, 2003:27).

Kerti atau bijaksana dalam slokantara dimaknai sebagai satu bentuk sikap pengendalian diri. Tanda kebijaksanaan seseorang diukur dari seberapa mampu orang tersebut mampu mengendalikan dirinya sebagai bentuk aktualisasi pengetahuannya tentang bagaimana bertindak yang benar. Orang bijak secara spesifik lebih diartikan sebagai aktualisasi dari pengetahuan atau filsafat tindakan. Orang bijaksana adalah orang yang mampu memilah tindakan yang baik dan tidak baik bagi dirinya (wiweka jnana). Di medan laga Kuruksetra, Arjuna pernah bertanya tentang kebijaksaaan ini kepada Sri Kresna (Bhagawadgita 2.54), sebagai berikut :

Sthita-prajnasya ka bhasa
samadhi-sthasya kesava;
sthita-dhih kim prabhaseta
kim asita vrajeta kim

Terjemahan :

Wahai Krsna, apakah tanda-tanda dari orang yang mantab kearifannya dan teguh imannya dalam samadhi? Bagaimana pula cara orang bijaksana itu berbicara, duduk, maupun caranya berjalan?(Pudja, 1999:66).

Kemudian Sri Krsna sebagai perwujudan Tuhan (Avatara) menjawab pertanyaan Arjuna tersebut (Bhagawadgita 2.55-2.58), sebagai berikut :
Prajahati yada kaman
sarvan partha mano-gatan,
atmany evatmana tustah
sthita-prajnas tadocyate

Terjemahan :

Wahai Arjuna, Orang dapat melenyapkan segala keinginan dalam hati dan hanya terpuaskan pada atman oleh sang atman saja, maka ialah orang yang disebut bijaksana (Pudja, 1999:67).

Duhkhesv anudvigna-manah
sukhesu vigatah-sprhah
vita-raga-bhaya-krodhah
sthita-dhir munir ucyate

Terjemahan :

Orang yang tidak sedih dikala duka, tidak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu, rasa takut dan amarah, ia disebut orang bijak yang teguh (Pudja, 1999:67).

Yah sarvatranabhisnehas
tat tat prapya subhasubham,
nabhinandati na dvesti
tasya prajna pratisthita

Terjemahan :

Ia yang tak mempunyai keterikatan dimana saja bila mendapat sesuatu yang baik atau buruk, tak akan ada rasa senang atau benci padanya, sesungguhnya ia adalah orang arif bijaksana yang telah memiliki kemantapan (Pudja, 1999:68).

Yada samharate cayam
kurmo nganiva sarvasah,
indriyanindriyathebyas
tasya prajna pratisthita

Terjemahan :

Ibarat penyu menarik anggota badan ke dalam cangkangnya, demikianlah ia menarik semua inderanya dari segenap objek keinginannya, yang arif bijaksana dalam keseimbangan (Pudja, 1999:68).

Sri Krsna (Bhagawadgita, 10.8-10.11) juga menyatakan bahwa, kebijaksanaan seseorang sangat ditentukan dari kepemilikan pengetahuan rohani seseorang, yakni pemahaman bahwa Tuhan sebagai sumber eksistensial dan adi kodrati. Sehingga bijaksana dalam konteks ini adalah tindakan yang senantiasa mengekpresikan sikap-sikap pengakuan, kepatuhan, persembahan dan motivasi “Tuhan” sebagai puncaknya. Penjelasannya sebagai berikut :

Aham sarvasya prabhavo
Mattah sarvam pravartate
iti mattva bhajante mam
budha bhava-samanvitah

Terjemahan :

Aku adalah asal mula segala yang ada, dari Aku lahirnya segala sesuatu ini, mengetahui ini-orang bijaksana memuja-Ku dengan sepenuh kalbu (Pudja, 1999:250).

Tesam evanukampartham
aham ajnana-jam tamah,
nasayamy atma-bhava-stho
jnana-dipena bhasvata

Terjemahan :

Karena kasih sayang murni-Ku pada mereka, yang bersemayam dalam hatinya, Aku menghancurkan kebodohan yang timbul oleh kegelapan, dengan sinar cahaya kebijaksanaan (Pudja, 1999:252).

Demikianlah signifikansi kebijaksanaan dalam Weda, begitu dalam dan memiliki peran yang fundamental dalam pencapaian kehidupan manusia. Banyak Interpretasi dan makna tentang kebijaksanaan menurut umum, namun Weda memberikan definisi secara spesifik, aplikatif dan jelas. Dalam pandangan Weda, kebijaksanaan merupakan akulturasi antara pengetahuan dan kesadaran tindakan yang terealisasi.

5. Sangsarga
Slokantara (Sloka 16)
Kalinganya, yan hana wwang masangsarga lawan wwang nica, niyata nika katularan buddhi durjana nica, mangkana yan asangsarga lawan ikang wwang sadhu, katularan budhi sadhu, drstopamanyatah, kadyangga nikang atat rwang siki, mangaran si Gawaksa, mwang si Girika, ikang sasiki, inalap ing tuha buru, iningu nika, ikang sasiki, inalap de sang pandita, iningu nira, kathancit hana ta sira ratu maburu-buru, kasasar ta sira prihawak, kuwawa marery umah ning tuha buru, kahanan ikang atat si Girika, mojar tekang atat ring sang prabhu, lingnya, ndah mah ta mah, siwak kapalanya, mangkana ta wuwus nikang atat, karengo de sang prabhu, alayu ta sira rumengo wuwusnya, ri wekasan ta sira, kawawa mareng patapan sang pandita, ri kahanan ikang atat si Gawaksa, mojar ta ya, lingnya, dhuh bhagya ta kita sang prabhu, dingaryan ta rahadyan sangulun, kasepera ring patapan, araryana ta laki, alungguha ring widig anar, anginanga wwah ampiji, mwang sere hanar, apuh mentah, yapwan anghel rahadyan sanghulun, madamwa sri maharaja, irikang walukan, mangka ling nikang atat ri sira, kascaryan ta manah nira sang prabhu, rumengwaken ujar ikang atat, ri wekasan ta sang prabhu, matakwan ri sang pandita, irikang atat iningu nira, mojar ta sang pandita, yan kawawa dening sangsarga nika, sangskepa nika sang sadhujana, haywa sira tan pamilihi sangsarga nira, ikang sayogyamu wuhana guna ri sira, haywa sira masangsarga lawan ikang wwang durjana, apan amawa mareng kawah, ling sang hyang aji.

Terjemahan :

Jika ada orang yang bergaul dengan orang yang berbudi rendah, pasti dia akan dipengaruhi oleh kerendahan dan kejahatan budi kawannya itu. Demikian juga jika kita bergaul dengan orang baik, sudha pasti ia akan dipengaruhi budi baik mereka itu. Hal ini dapat disamakan dengan cerita dua ekor burung beo bernama Gawaksa dan Girika. Seekor dipelihara dan dilatih oleh seorang pemburu. Yang lainnya dipelihara dan dilatih oleh seorang pendeta agung. Suatu hari ada seorang raja yang sedang berburu dan tersesat sendirian saja, hingga akhirnya baginda sampai ke rumah pemburu itu, yang ditunggui oleh burung beo bernama Girika. Burung itu berkata kepada raja, “Nah ini dia, ini dia datang, bunuh saja, potong lehernya”. Demikianlah kata-kata burung ini yang menyebabkan raja itu ketakutan dan lari dari tempat itu sehingga akhirnya baginda sampai di pertapaan Sang Pendeta yang dijaga oleh burung beo yang bernama Si Gawaksa. Burung itu berkata, “Kami bahagia Tuanku, karena Tuanku telah sudi mampir ke pertapaan ini. Beristirahatlah di sini, Tuanku. Silakan Tuanku duduk di tikar baru itu. Maafkan sajian kami berupa buah pinang yang agak keras, daun sirih muda, dan kapur mentah ini.

Nampaknya Tuanku telah berpayah-payah benar hingga sampai kemari. Silakan segarkan badan Tuanku dengan istirahat di telaga permandian itu. Demikian ucapan burung itu, sehingga baginda terperanjat mendengarnya. Baginda lalu bertanya dengan sang pendeta tentang burung yang dipelihara di asrama itu. Dan sang pendeta berkata bahwa burung itu dipelihara dari kecil sampai besar dan dipengaruhi oleh keadaan sehari-hari sang pendeta. Tegasnya orang-orang baik janganlah lengah sehingga salah dalam mencari kawan pergaulan. Haruslah diusahakan mencari kawan yang dengan pergaulan itu, dapat mempertinggi pribadi sendiri. Jangan sekali-kali bergaul dengan orang jahat karena pergaulan demikian akan membawa ke neraka. Demikianlah kitab suci (Sudharta, 2003:53-55).

Sangsarga berarti pergaulan. Dalam pengertian umum, pergaulan dimaknai sebagai kontak langsung antara satu individu dengan individu lain, atau antara pendidik dan anak didik. Di katakan bahwa pergaulan merupakan salah satu sarana untuk mencapai hasil pendidikan yang baik. Langevel menyatakan bahwa, pergaulan itu merupakan ladang atau lapangan yang memungkinkan terjadinya pendidikan (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:1&5).

Weda mengajarkan pentingnya pergaulan, karena dalam pergaulan tersebut akan secara signifikan membentuk karakter seseorang. Seperti yang telah dicontohkan dalam sloka di atas tentang cerita burung beo Gawaksa yang dipelihara oleh seorang brahmana dan Girika yang dipelihara oleh seorang pemburu. Dalam perkembangannya, burung tersebut memiliki karakter yang sangat bertolak belakang, Gawaksa memiliki sifat-sifat yang lembut hati, bicaranya sopan, menyejukkan hati, seakan Gawaksa telah mewarisi sifat-sifat brahmana yang membesarkannya, sedangkan Girika memiliki sifat yang jahat, bicaranya kasar, keras, menyakitkan hati, bahkan sadis, hal tersebut karena dalam kesehariannya, Girika senantiasa mendengar dan melihat hal-hal kejam dan buruk setiap hari dari seorang pemburu yang membesarkannya. Oleh sebab itu Weda begitu menekankan pentingnya memilih pergaulan yang baik. Dalam Sarasamuccaya sloka 300-301, dijelaskan sebagai berikut :

Nyang selangakena, ikang sang-sarga, agelis juganularaken guna ya, irikang lot masangsarga lawan maguna, wyaktinya, nahan yamboning sekar, an tular mara ring dodot, wwai, lenga, lemah, makanimitta pasangsarganya lawan ikang kembang.

Terjemahan :

Inilah tentang pergaulan; lekas benar pergaulan itu memindahkan sifat yang baik kepada orang yang selalu bergaul dengan orang yang bersifat utama; buktinya baunya bunga beralih kepada kain, air, minyak dan tanah, disebabkan persentuhannya dengan bunga itu (Kajeng, 1999:227).

Matangnyan mandeh ikang buddhi, yan pasangsargan ngwang lawan wwang sor hinabuddhi, yapwan wwang madhyama sangsarganing wwang, madhyama ikang buddhi denya, wwang uttama pwa sang sinangsarga, uttama buddhining wwang yan mangkana.

Terjemahan :

Oleh karena itu merosotlah budi seseorang; jika bergaul dengan orang yang hina budi, jika orang yang madya-budi menjadi sahabatnya, maka madya-budi yang dihasilkannya; jika orang yang utama budi dijadikan teman bergaul, maka utamalah budi orang itu karenanya (Kajeng, 1999:228).

Pandangan senada juga terdapat dalam Pustaka Weda yang lain, yaitu dalam kitab Nitisastra VII.6, yang berbunyi :

Tan mitran tikanang duratmaka, sirang sujana juga minitra sewaken. Tan luputeng yasa dharma punya, gawayen rahana wengi taman helem-helem. Ewehing pati tan kenenaku, ang uripta sukha wibhawa nora saswata. Yatna sewaka ring mahamuni, sipat siku-siku patitis tanakna.

Terjemahan :

Jangan hendaknya bersahabat dengan orang-orang yang jahat, bergaullah dengan orang baik-baik saja. Janganlah hendaknya dilalaikan berbuat kebajikan, melakukan kewajiban suci dan berderma, laksanakanlah setiap hari jangan ditangguhkan. Yang menyebabkan kita takut pada kematian ialah, karena kita tidak kenal apa maut itu dan kapan datangnya. Yang diketahui bahwa hidup bahagia dan kaya ini tidak kekal. Oleh karena itu berguru dengan rajin kepada pendeta besar, tanyakan dengan secermat-cermatnya mana jalan yang baik dan mana jalan yang tidak baik guna sampai pada apa yang dicita-citakan, yaitu: ketinggian budi dan kepribadian (Sudharta, 2004:56).

Apa yang dijelaskan dalam Weda tersebut sejalan dengan yang terjelaskan dalam aliran klasik tentang perkembangan manusia (Tirtarahardja dan Sulo, 2005:194-198) yaitu terdiri :

1. Aliran Empirisme atau Environmentalisme
Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak yang lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak.

2. Aliran Nativisme
Istilah nativisme dari asal kata natie yang artinya terlahir. Schopenhauer (filsuf Jerman 1788-1860) merupakan tokoh penting dalam aliran ini. Schopenhauer berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil kahir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah di bawa sejak lahir.

Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawan baik maka dia akan menjadi orang baik. Pembawaan buruk dan baik itu tidak dapat di ubah oleh kekuatan luar.

3. Aliran Naturalisme atau Negativisme
JJ Rousseau, filsuf Prancis (1712-1278) merupakan pelopor pandangan ini. Berbeda dengan Schopenhauer, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Pembawaan baik anak akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan. Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangn manusia melalui proses pendidikan itu.

4. Aliran Konvergensi
Perintis aliran ini adalah Willian Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu.

William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis menuju ke satu titik pertemuan. Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergensi artinya memusat ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi :
– Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan
– Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
– Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia.

Kiranya dapat dimengerti bahwa Weda memiliki relevansi dengan teori-teori pendidikan tumbuh kembang manusia. Pergaulan memiliki pengaruh yang sangat penting dalam tumbuh kembang manusia, apa yang terjabarkan dalam Weda memiliki persamaan dengan apa yang telah dijelaskan dalam teori-teori pendidikan tumbuh kembang manusia seperti di atas, utamanya pada aliran naturalisme dan aliran konvergensi.

6. Dasa Paramarta

Slokantara (Sloka 72 Paragraf 1)

Nihan dasa paramartha, kawruhakna de sang sewaka-dharma, sang tumaki-taki ambek awiratin, sang mahyun walwi manusajati, kang sangkan ing luput ing papa kawah, ya ta ulahakna ikang dasa paramartha. Ndya ta, tapa, brata, samadhi, santa, sanmata, karuna, karuni, upeksa, mudita, maitri. Kramanya, tapa nga ambek kawiratin. Brata nga anglongi sakawisaya ning mahurip.

Samadhi nga sabda tunggal tan lenok. Sanmanta nga tunggal karep ira kewala ring karahaywan, dera gawayaken. Karuna nga awelas ri sasama ning mahurip. Karuni nga asih ring sarwa tumuwuh, muwah sakweh ing sarwa sato. Upeksa nga wruh ing hala-hayu, ata mamarahi ring wong mudha, maring apekik. Mudita nga ambek ayu legeng buddhi, tan purik yen pinituturan. Maitri nga aweh sabda rahayu ring sasama ning ahurip.

Terjemahan :

Inilah sepuluh paramartha (tujuan hidup utama), yang harus diketahui oleh orang menjalankan dharma. Orang yang ingin melepaskan pikirannya dari hidup sebagai manusia lebih tinggi.

Kesepuluh paramartha itu ialah jalan untuk melepaskan diri dari neraka. Karena itulah maka ia harus menjalankan kesepuluh Paramartha ini yaitu: Tapa, Brata, Samadhi, Santa, Sanmanta, Karuna, Karuni, Upeksa, Mudita, dan Maitri.

Tapa artinya meninggalkan keduniawian. Brata yaitu memperkurang kepentingan hidup di dunia ini. Samadhi ialah membiasakan diri memusatkan pikiran di waktu sunyi malam sepi, merenungkan tentang dharma. Santa artinya tidak pernah berbohong. Sanmanta, yaitu satu-satunya keinginan ialah berbuat kebajikan. Karuna ialah cinta dan sayang pada sesama manusia. Karuni ialah cinta kepada segala makhluk hidup termasuk juga binatang. Upeksa artinya mengetahui mana yang baik atau mana yang buruk. Di dalamnya juga termasuk pengetahuan bagaimana cara mengajar manusia lainnya yang bodoh, walaupun mereka nampaknya berbahagia, sehat dan berwajah tampan. Mudita ialah selalu berbahagia, gembira dalam hati, puas pikiran, dan selalu menuruti petunjuk melakukan kewajiban. Maitri artinya selalu berkata sopan dan tidak menyakiti hati orang lain (Sudharta, 2003:238-240).

Dasa Paramarta berasal dari kata “dasa” dan “paramarta”. Dasa artinya sepuluh dan paramarta berarti tujuan hidup. Dalam Kamus Sanskerta Indonesia (2007:199), “paramartha” berarti pengetahuan yang paling tinggi. Dari penjelasan tersebut kiranya dapat dipahami bahwa dasa paramarta berarti sepuluh tujuan hidup atau sepuluh pengetahuan tertinggi. Kesepuluh bagian dari paramarta tersebut sesungguhnya memiliki substansi mengenai ajaran pengendalian diri (tapa) dalam rangka mencapai tujuan hidup manusia yang utama. Tebaran nilai-nilai dalam Dasa Paramarta tersebut juga merupakan nilai-nilai pengendalian diri (tapa) dalam kepustakaan weda. Dalam Kamus Sanskerta Indonesia (2007:142) tapa berarti terbakar; pengekangan; pemanasan; menyusahkan; matahari; musim yang panas; penebusan dosa. Terminologi lain terkait dengan kata tapa, yakni : 1) Tapas artinya panas; sakit; penebusan dosa; jasa; tugas khusus tentang segala kasta/suku bangsa tertentu; salah satu dari tujuh dunia. m.; Bulan Magha., 2) Tapasvarana, tapasvarya artinya praktek penebusan dosa., 3) Tapasya artinya praktek penebusan dosa., 4) Tapasvin berarti praktek kesederhanaan/sifat keras religius; tanpa pengharapan.

Tapa memiliki makna yang sangat penting bagi umat Hindu dan manusia pada umumnya. Mengapa demikian, sebab telah dijelaskan dalam pustaka Weda, bahwa tapa dapat melepaskan manusia dari belenggu kesengsaraan material dan mengantarkannya menuju kedamaian abadi. Dijelaskan dalam Bhagawadgita 5.29, yakni :

Bhoktaram yajna-tapasam
sarva-loka-mahesvaram
suhrdam sarva-bhutanam
jnatva mam santim rcchati

Terjemahan :

Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku sebagai penerima utama segala korban suci dan “pertapaan”, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua makhluk hidup, akan mencapai kedamaian dari penderitaan kesengsaraan material (Prabhupada, 2006:301-302).

7. Nawa Wangsa

Slokantara (Sloka 72 Paragraf 3)

Nihan ambek nawa-sanga nga marapwan sira siddha rahayu, lwirnya, andrayuga, gunabhiksama, (Sadhuniragrha), widagdha prasanna, wirotasadharana, krtarajahita, tyaga prasanna, suralaksana, sura pratyayana, sanga kwehnya. Andrayuga nga prajna ning dharmatutur, watek angaji, widagdha wruh ring hala-hayu. Gunabhiksama nga sadhu sira ring artha ning gusti, lumanglang sira ring pakeweh, upeksa sira rorowang, anut sakrama ning wwang akweh, enak de nira Krta rahayu. Sadhuniragrha nga sadhu sira ring wawadon, tan cakep sira ring sama-sama wwang, Widagdha prasanna nga tan mamangan sira ingaturan sabda tan yogya, tan sungsut purik sira, prasannabuddhi nira enak. Wirotasadharana nga wani tan karahatan, (tan?) asor ing ujar, mrih ring niti. Krtarajahita nga wani asor, wruh ring Kutara-manawadi. Tyagaprasanna nga tan panengguh angel, yen ingutus dening gusti. Suralaksana nga tan anengguh wedi, enggal tan asuwe, surapratyayana nga bhakty agusti, sura-laksana ring paperangan, sumangga ring pakeweh, rumaksa ring gusti. Iti ambek nawangsa, kayatnakna kramanya, sowang-sowang, rahayu dahat, yan kalaksanan.

Terjemahan :

Ini lagi perilaku yang dinamai nawasanga yang dapat menyebabkan hidup kita menjadi bahagia yaitu: Andrayuga, Gunabhiksama, Sadhuniraga, Widagdhaprasanna, Wirotasadharana, krtaraja-hita, Tyagaprasanna, Suralaksana, Sura-pratyayana yang berjumlah sembilan itu.

Andrayuga artinya menguasai ajaran-ajaran dharma, segala macam pengetahuan, bijaksana, dan tahu akan apa yang baik dan apa yang buruk.

Gunabhiksama artinya jujur akan harta kepunyaan atasannya, selalu dapat mengatasi segala kesukaran, tidak melibatkan diri pada pertentangan-pertentangan yang timbul, seiring sehaluan dengan kehendak umum dunia berbahagia, jika melakukan kebajikan.

Sadhuniragrha artinya jujur terhadap wanita, dan tidak menyakiti sesama manusia.
Widagdhaprasanna artinya tidak termakan oleh ucapan-ucapan tidak benar yang ditujukan kepadanya, dan tidak merasa marah atau sedih, selalu bahagia dan tenang pikirannya.

Wirotasadharana ialah keberaniannya tidak ada bandingannya, tidak bisa kalah dalam perdebatan dan selalu memegang keadilan hukum.

Krtarajahita artinya tidak segan-segan mengalah (kalau merasa salah) dan memahami benar isi kitab hukum Kutaramanawa dan lain-lainnya.
Tyagaprasanna artinya tidak mengenal rasa lelah jika sedang melakukan tugas yang dibebankan oleh atasannya.

Suralaksana artinya tidak mengenal rasa takut, selalu cepat dan tidak lamban dalam bertindak.
Surapratyayana artinya hormat dan setia pada atasan, tidak pernah mundur dari medan perang, tidak lari dari kesukaran, tetap waspada dalam menjawab atasan.
Semua ini adalah perbuatan Nawasanga yang harus diusahakan melakukannya satu demi satu sampai seluruhnya terlaksana karena hal itu merupakan sesuatu yang sangat baik adanya jika dapat dilaksanakan (Sudharta, 2003:239-242).

Nawasanga adalah sembilan tindakan atau perilaku yang dapat menyebabkan hidup manusia menjadi bahagia.
Daftar Pustaka

Capra, Fritjof. 2000. Titik Balik Peradaban. Terjemahan M. Thoyibi. Yogyakarta : Bentang
Darmadi, Hamid. 2007. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Bandung : Alfabeta.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta:Gramedia
Ngurah, I Gusti Made. 1999. Buku Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Paramita
Sivananda, Sri Swami. 2003. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya : Paramita
Soebadio, Haryati. 1991. “Relevansi Pernaskahan dengan Berbagai Bidang Ilmu” dalam Naskah dan Kita. Lembaran Sastra. Jakarta : Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Sudharta, Tjok Rai. 2003. Slokantara (untaian ajaran etika, teks, terjemahan dan ulasan). Surabaya : Paramita
Suhardana, K.M. 2006. Pengantar Etika dan Moralitas Hindu: Bahan Kajian Untuk Memperbaiki Tingkah Laku. Surabaya: Paramita
Titib, I Made. 2003. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya ; Paramita
Pudja, G. 1999. Bhagawad Gita (Pancama Veda). Surabaya : Paramita
Prilakusuma, Angga. 2012. Telaah Kritis Aplikasi Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Quran
Zuchdi, Darmiyati. 2009. Humanisasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Zuriah, Nurul. 2008. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan (Menggagas Platfom Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik). Jakarta : Bumi Aksara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s